
Aceh– BSI Maslahat membangun keceriaan anak korban banjir Aceh
melalui aktivitas bermain dan pendampingan psikososial. Sebanyak 250 anak
diajak menikmati kegiatan
rekreatif di Mutiara
Water Park, Langsa,
pada Sabtu (17/1). Anak-anak bermain air di wahana
yang aman dan terpantau oleh relawan terlatih. Selain itu, mereka juga
mengikuti sesi pendampingan psikososial berupa dongeng untuk membantu
memulihkan rasa aman dan mengurangi trauma pascabencana. Kegiatan ini turut
dilengkapi dengan pemberian perlengkapan sekolah, meliputi tas, buku tulis, buku gambar,
alat tulis, botol minum, dan tempat makan sebagai dukungan untuk mengembalikan semangat
belajar anak terdampak banjir.
Aktivitas
ini membuka ruang relaksasi bagi anak yang selama beberapa minggu terakhir
mengalami tekanan psikologis akibat banjir bandang. Melalui sesi bermain
tersebut, anak dapat mengalihkan diri dari rasa takut, berinteraksi dengan
teman sebaya, serta menata kembali emosi yang sempat terguncang. Para
fasilitator kemudian melanjutkan pendampingan psikososial berupa dongeng yang
dirancang untuk memantik imajinasi, merangsang keberanian, dan
memperkuat resiliensi anak. Melalui cerita yang hangat, anak
didorong mengungkapkan perasaan, membagikan pengalaman, dan memahami bahwa
mereka tidak sendiri dalam menghadapi masa sulit.
Program
pemulihan anak ini hadir di tengah dampak besar yang masih dirasakan masyarakat
Aceh. Pada akhir November 2025, Aceh dilanda curah hujan ekstrem yang memicu
banjir bandang dan longsor di banyak wilayah.
Laporan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merilis
jumlah korban meninggal mencapai 1.201 orang, di mana 562 di antaranya
berasal dari Aceh pada Sabtu, (24/01). Lebih dari 113.900 warga mengungsi ke
lokasi yang tersebar di sejumlah kabupaten, termasuk Aceh Utara, Gayo Lues, dan
Pidie Jaya sebagai tiga wilayah dengan jumlah pengungsi terbanyak. Sebanyak
170.050 bangunan mengalami kerusakan pada tingkat ringan hingga berat,
sementara fasilitas kesehatan, sekolah, rumah ibadah, jembatan, dan ruas jalan
turut terdampak. Dalam situasi seperti ini, anak menjadi kelompok yang paling
rentan dan membutuhkan perhatian khusus. Banyak anak kehilangan rumah, terpisah
dari teman sekolah, serta mengalami ketakutan mendalam terhadap suara hujan
atau aliran air.
Sejak
hari pertama bencana, BSI Maslahat telah mengambil peran aktif dalam
penanggulangan dan penyaluran bantuan darurat bagi warga terdampak. Tim turun
langsung ke lapangan untuk memberikan dukungan evakuasi, mendistribusikan
kebutuhan mendesak, dan melakukan asesmen terhadap kebutuhan penyintas,
terutama anak. Berdasarkan data tersebut, BSI Maslahat kemudian
membentuk Zona Anak sebagai
pusat aktivitas pemulihan psikososial yang dapat diakses oleh warga. Zona ini
didirikan di lima lokasi yang tersebar di Kabupaten Aceh Tamiang dan Kota
Langsa, dengan total penerima manfaat
250 anak. Melalui
pendekatan terorganisasi,
setiap zona berfungsi sebagai
ruang aman untuk belajar, bermain,
dan mendapatkan pendampingan
yang sesuai dengan kondisi emosional anak.
“Saya
senang sekali bisa berenang. Saya juga dapat bingkisan, buku sekolah, buku
gambar, jajanan, dan pensil warna.
Sering-sering ajak kami ya,” ujar Fathir (10),
salah satu anak penerima manfaat.
Senada
dengan Fathir, Bila (9) juga mengungkapkan kebahagiaannya bermain bersama
teman-temannya. “Saya senang bisa berenang dengan teman-teman, bisa tertawa dan main bareng.
Ternyata kami lebih senang main air di kolam daripada
main di banjir. Terima kasih sudah ajak kami main,” tuturnya.
Melalui
rangkaian program pemulihan psikososial ini, BSI Maslahat menegaskan
komitmennya untuk hadir bersama masyarakat Aceh, khususnya anak-anak yang
menjadi kelompok paling terdampak. Dukungan yang
diberikan tidak hanya berfokus pada pemenuhan kebutuhan darurat, tetapi juga
pemulihan kondisi emosional dan semangat belajar mereka agar dapat kembali
menjalani keseharian dengan lebih aman dan percaya diri. BSI Maslahat berharap
program ini menjadi langkah berkelanjutan dalam memperkuat ketahanan psikologis
anak serta membangun harapan baru bagi keluarga penyintas bencana di Aceh.




















